Bagi para pecandu film Harry Potter terutama sekuel “Harry Potter and the Goblet of Fire”,
penampilan binatang ini mungkin tidak luput dari perhatian para
penonton. Tampangnya yang menyeramkan dengan duri-duri yang tajam di
bagian capitnya menambah semakin seram dengan kisah film Harry Potter
yang khas dengan cerita magis dibumbui dengan binatang-binatang yang
aneh. Dalam aksinya di film Harry Potter, kala cemeti nampak menjadi
bahan demonstrasi dalam kelas. Binatang ini digambarkan bisa membesar
badannya dan meregangkan capitnya yang seram seakan siap menelan apa
yang ada di depannya. Sang guru, Mad-Eye Moody, pun sempat bilang kalau
binatang itu tidak berbahaya ketika kala cuka menempel di kepala
muridnya.
Kala cemeti yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan “whip-spider” atau “tailess whip-scorpiones”
dalam bahasa latin dikenal dengan Amblypygi merupakan salah satu
binatang dalam Kelas Arachnida, sub-phyllum Chelicerata yang tidak
berbahaya meskipun mempunya penampakan yang menyeramkan.
Kelompok ini dicirikan dengan
bentuk tubuh yang pipih, dengan capit yang dilengkapi dengan duri-duri
yang panjang dan tajam, kaki empat pasang dengan sepasang kaki paling
depan telah termodifikasi berbentuk antena yang tersusun oleh puluhan
ruas menambah penampakan yang semakin menyeramkan. Bagian tubuh secara
khas dibedakan menjadi dua bagian yaitu Prosoma (cephalothorax) dan abdomen. Semua pasang kaki melekat di bagian prosoma yang merupakan bagian kepala (cephala) dan dada (thorax) yang mereduksi menjadi satu.
Binatang ini mempunyai delapan mata yang tersusun menjadi tiga
kelompok mata yaitu sepasang mata tengah yang terdiri dari dua mata,
kemudian dua kelompok mata yang berada di bagian samping terdiri
masing-masing tiga mata. Peran mata di binatang ini rasanya kurang
banyak berperan mengingat kala cemeti lebih banyak hidup dan
beraktifitas di malam hari dan lebih menyukai tempat-tempat yang lembab
dan gelap.
Keragaman
Saat ini, di dunia dikenal sedikitnya ada lebih 14o jenis yang telah
terdeskripsi dari 17 marga dari lima suku. Ke lima suku tersebut adalah Paracharontidae (1 marga), Charinidae (2 marga), Charontidae (2 marga), Phrynichidae (7 marga) dan Phrynidae (4 marga) (Harvey 2003).
Di Indonesia, dikenal ada tiga suku yang pernah dilaporkan ditemukan tersebar di pulau-pulau Indonesia. Ketiga suku tersebut adalah Charinidae, Charontidae
dan Phrynidae. Jumlah jenis yang ditemukan di Indonesia masih tergolong
rendah mengingat belum banyak kegiatan eksplorasi tentang kala cemeti
yang dilakukan di Indonesia.
Namun diyakini bahwa jumlah jenis yang sampai saat ini tidak lebih
dari jumlah jari tangan masih bisa bertambah jumlahnya dengan kegiatan
penelitian taksonomi jenis ini secara intensif.
Distribusi
Kelompok kala cemeti di dunia tersebar di daerah tropis dan subtropis
dengan sebaran beberapa suku sangat khas di daerah tertentu dan ada
satu famili yang tersebar di lingkar tropis. Kelompok famili yang
tersebar luas adalah Charinidae yang tersebar di lingkar tropis. Suku
Charontidae dikenal sangat khas hanya ditemukan di kawasan Asia Tenggara
sampai Australia bagian utara. Suku Paracharontidae yang merupakan
satu-satunya suku yang mempunyai satu jenis dari satu marga dan
merupakan kelompok paling primitif hanya di temukan di daratan benua
Afrika. Suku Phrynchidae dikenal tersebar di daratan Afrika, Arabia,
India sampai di bagian timur sekitar Kamboja dan Vietnam. Sedangkan Suku
Phrynidae sebelumnya dikenal hanya ditemukan di daratan Amerika bagian
tengah namun secara mengejutkan ditemukan di Pulau Flores di kepulauan
Lesser Sunda (Indonesia).
Habitat
Kala cemeti merupakan salah satu binatang yang menyukai tempat gelap
dan lembab. Di hutan-hutan, pada siang hari mereka bersembunyi di bawah
batu, di bawah kayu lapuk, di celah-celah pohon atau tempat-tempat
tertutup lainnya. Di daerah yang pemukiman, mereka terkadang ditemukan
hidup di tumpukan batu, batu bata, atau bahkan di kamar mandi.
Tempat yang lebih banyak dan mudah ditemukan adalah gua. Kala cemeti
sangat mudah ditemukan hidup di dinding gua dengan perawakann nya yang
khas dan menyeramkan. Di dalam gua, mereka jarang bersembunyi atau
mencari tempat untuk berlindung karena kondisi gua yang sudah gelap
total.
Aktivitas
Kala cemeti lebih banyak beraktivitas di malam hari jika mereka
termasuk kelompok yang hidup di luar gua. Pada malam hari mereka berburu
mangsa dan juga kawin. Mereka memangsa binatang-binatang malam seperti
jangkrik, kecoak dan serangga lainnya. Di belahan selatan benua Amerika
pernah dilaporkan kelompok ini mempunyai kemampuan untuk berburu udang
di dalam air dan mampu bertahan di dalam air untuk beberapa waktu.
Namun jika mereka ditemukan di dalam gua, aktivitas berburu dan kawin
terkadang dapat ditemukan pada siang hari seperti yang pernah saya
amati di beberapa gua di Jawa. Perilaku kawin dan makan untuk kala
cemeti yang hidup di dalam gua sepertinya tidak dipengaruhi oleh siklus
siang malam yang terjadi di luar gua. Namun penelitian tentang irama
biologis untuk kelompok kala cemeti belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Peran
Kala cemeti merupakan kelompok predator yang memangsa binatang lain
seperti jangkrik kecoak dan serangga lain. Dalam satu ekosistem,
contohnya di ekosistem hutan, kala cemeti merupakan bukan sosok pemburu
mangsa yang aktif, mereka lebih banyak menunggu mangsa yang lewat
disekitarnya. DI malam hari, kala cemeti dapat ditemukan menempel di
batang pohon sambil menunggu mangsa. Selain itu, seperti yang pernah
saya amati ketika mengunjungi Pulau Batanta, binatang ini ditemukan di
atas batu ditepian sungai sedang menunggu mangsa.
Di beberapa gua juga sempat saya temukan mereka sedang memangsa jangkrik maupun kecoak gua.
Ancaman kelestarian
Kala cemeti merupakan salah satu binatang yang tidak banyak dikenal.
Meskipun tergolong binatang yang diketahui sejak jaman Karbon sampai
sekarang namun jumlah jenis nya tidak terlalu banyak dibandingkan
kerabatnya seperti laba-laba dan kalajengking.
Di dunia, belum ada satupun jenis yang dilindungi seperti
dikategorikan dalam IUCN maupun masuk dalam daftar CITES meskipun
beberapa jenis khususnya dari Afrika dikenal sangat banyak diperdangkan
sebagai binatang peliharaan.
Di Indonesia sama sekali belum banyak jenis dari kelompok Arachnida
yang masuk dalam daftar lindungan. Beberapa jenis arachnida seperti
kalajengking, laba-laba tarantula banyak dikenal diperdangkan dan juga
menjadi salah satu komoditi ekspor.
Perdagangan sebagai salah satu ancaman keberadaan beberapa jenis
Arachnida khususnya kala cemeti sampai saat ini belum banyak menjadi
perhatian khusus. Hal ini mengingat minimnya pengetahuan dan minimnya
ahli kelompok arachnida yang dapat ditemukan di Indonesia.
Selain ancaman perdagangan, ancaman penebangan hutan juga dapat
mengganggu jenis-jenis yang ditemukan hidup di hutan-hutan seperti salah
stu jenis yang ditemukan di hutan Ujung Kulon.
Selain itu, meningkatnya aktifitas penambangan kapur di beberapa
kawasan karst dapat meningkatkan potensi rusaknya habitat kala cemeti
yaitu gua-gua karst yang banyak tersebar di hampir semua pulau di
Indonesia.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar